AHIMSA

Ahimsa adalah sebuah istilah Sansekerta yang berarti “antikekerasan”

Menghargai agama orang lain berarti menghargai agama kita sendiri, Menghina agama orang lain berarti menghina agama kita sendiri.

 

Tulisan ini dimulai dari keresahan. Resah yang timbul di benak ketika melihat oknum tertentu mengatasnamakan agama dan membuat keonaran, resah melihat konflik-konflik antar umat beragama berujung pada kekerasan hingga kematian yang sia-sia. Dan kita semua, tahu akan itu.

Masyarakat yang berpendidikan tentu dapat mempelajari betapa Yesus mengajar tentang kasih sayang dan cinta kasih, Muhammad mengajar tentang syukur dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Buddha menuntun manusia untuk mencari jalan tengah, Krishna mengajar manusia untuk melawan yang batil dan menegakkan kebenaran, Confuciusmengajarkan kebajikan, dan ajaran-ajaran merekalah yang kita sebut agama. Terbukti ya, bahwa setiap agama selalu mengajarkan kebaikan.

Demi sebuah keyakinan agama, orang bersedia melakukan apa saja. Agama yang diyakini oleh seseorang memberikan motivasi, daya tahan hidup, dan bahkan orang bersedia mati, demi membela keyakinan agamanya. Membela agama yang diyakini itu adalah sebuah keniscayaan. Membela dan menegakkannya adalah sebuah kewajiban. Namun, bukankah setiap orang normal tahu bahwa betapa dunia senantiasa diliputi ketidaksamaan yang selalu ada dalam hierarki kehidupan manusia?

Saya merasa tidak perlu untuk menyebutkan satu per satu konflik antar agama yang telah terjadi di bumi pertiwi kita, teman-teman tentu sudah mendengar akan hal tersebut. Saya hanya merasa, Indonesia masih perlu “belajar” dari Amerika Serikat tentang cara mengatur keberagaman beragama di kalangan masyarakat. Tanpa bermaksud memuja AS, tapi negara itu layak menjadi ‘model’ dalam keberagaman. Kebijakan negara adidaya itu dalam keberagaman sangat memberikan peluang kepada masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan keagamaan sebebas mungkin. Namun AS mampu menyosialisasikan kepada rakyatnya untuk tidak mengganggu kenyamanan agama lain meski kebebebasan beragama itu diberlakukan. AS mampu menjadikan keberagaman itu sebuah kekuatan masyarakat yang justru mendukung berbagai kebijakan yang dicanangkan pemerintah. Dengan kebebasan dalam keberagaman itu, warga AS menjadi terbuka dan jarang sekali menilai seseorang dari asal usulnya atau agamanya. Melalui pola itu, pemerintah AS mampu meyakinkan rakyatnya bahwa agama bukan menjadi penghalang dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak hanya konflik, masih di Indonesia, negara kita sempat dimarakkan dengan lahirnya Nabi-nabi (jadi-jadian) baru yang membawa serta kepercayaan dan agama baru dan melahirkan ajaran-ajaran sesat. Dalam hal ini, Indonesia juga perlu mempelajari kebijakan pemerintah AS dalam menghilangkan niat rakyatnya untuk mendirikan negara agama meski kebebasan beragama dibuka seluas mungkin. Salah satu kiatnya merealisasikan nilai agama itu seperti humanisme, keadilan dan kepedulian dalam setiap peraturan dan kebijakan meski negara itu dikenal sebagai kapitalis. Karena itu, meski di sana agama diberikan kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi hebatnya tidak ada sedikit pun niat untuk mendirikan negara agama.

YOT-ers! Agama sebuah keyakinan. Bukan barang mainan. Setiap orang bersedia melakukan apa saja, demi keyakinan agama. Inilah yang harus diperhatikan oleh semua golongan, agar tidak bertindak sewenang-wenang. Karena kelak hanya akan menyulut konflik antara agama. Tulisan ini bukan semata-mata dibuat untuk berbicara mengenai agama ya teman-teman, namun bagaimana kita memandang konflik yang terjadi dan menyikapinya dengan sudut pandang toleransi antar umat beragama. Semoga bermanfaat.

N. M. Agita Pasaribu

Young On Top Campus Ambassador Universitas Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s