Get Educated, Get Married

 

“I am a 19 year old student of legal studies from a liberal Muslim family”

 

Saya senang waktu liburan datang, itu berarti semakin banyak waktu bersama keluarga. Ya, terutama waktu makan malam dan berbincang didepan televisi yang biasanya selalu saya habiskan di perjalanan menuju rumah dari kampus.

 

Singkat cerita, waktu itu jam 7 malam, berita di televisi tentang Rosa (saksi kasus penggelapan uang wisma atlet). Diiringi latar cerita pengadilan. Ya, orangtua saya memang mengidam-idamkan anaknya menjadi Hakim Agung, maklum, kami keluarga Batak, dengan stereotype yang menjadikan bahwa rezeki yang “halal” adalah berkarier di bidang Hukum, mencari uang dengan mulut sendiri, bukan dari mulut orang lain, seperti dokter gigi. 

 

Begitulah sepenggal ucapan dari Mama. Lulus, melanjutkan kejenjang Strata Dua, masuk sekolah kehakiman, jadi Hakim dan menikah dengan Hakim juga. Tentram, dua-dua nya PNS.

 

Untuk mewujudkan keinginan orangtua dan meniti karier sebagai Hakim memang bukan hal yang saya benci, tapi satu hal dari akhir kata sepenggal kalimat diatas. MENIKAH.

 

Sontak saya berpikir, apakah wanita disekolahkan tinggi hanya demi title dan mendapatkan suami yang sepadan atau lebih? Apakah sekarang pendidikan sudah mulai lumer kedalam ranah “hati”, apabila jodoh saya nanti hanya lulusan S1, lantas S2, dan karena saya wanita, maka saya harus mendapatkan suami yang jauh lebih mapan dari segala sisi?

 

Bagaimana kalau saya memilih untuk tidak menikah diumur yang ideal bagi orangtua umumnya?

Bagaimana kalau saya tidak mau punya anak?

Bagaimana kalau saya adalah seorang Hakim Agung sedangkan suami saya PNS biasa dengan golongan rendah? Apa orang tua saya “ridho” menikahkan saya?

 

Ya, saya kira ini problematika, kita menemukan pecahan baru dari makna pendidikan, bukan lagi untuk ilmu, tapi untuk pasangan hidup, untuk gelar, martabat dan status sosial.

 

Saya tidak bilang itu salah, itu benar, dan sah saja apabila diantara kamu juga menganut paham yang sama seperti saya. Saya hanya menyayangkan, saya masih dibelenggu kata “wanita”, saya masih harus dibawah atau setara, saya belum bisa lebih tinggi atau menentukan “hidup” sendiri.

 

Ini memang kultur yang baik dari ibu pertiwi, selama keuntungan masih berada di pihak kamu, tapi bukan berarti tak jadi bumerang untuk kamu nanti. Satu saja yang perlu kita yakini, pendidikan adalah hal yang positif, uang, karier dan jodoh akan datang bersamanya. Itu saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s