MENILAI “CINTA”

 

“Once in a while, right in the middle of an ordinary life, love gives us a fairy tale.”

 

Ketika,

 

– Daftar lagu di iTunes berubah menjadi album kompilasi “love songs”,

 

– Adegan romantis dalam film yang pernah kamu tertawakan tiba-tiba menjadi begitu berarti,

 

– Kamu memperhatikan tiap detik dari hidup seseorang, dimana dia, sedang apa dia, apa yang dia lakukan, menunggu pesan darinya hingga memikirkan pakai baju apa dia hari ini.

 

Kamu boleh bilang ini Persahabatan. Tapi coba pikir lagi. Apakah kamu menceritakan tentang orang ini kepada semua teman kamu? (Okay, saya beri kamu waktu untuk berpikir)

 

Sering kali kita dengar bahwa orang yang sedang dimabuk cinta diibaratkan seseorang yang “buta”, “bodoh” atau apapun itu yang mengindikasikan kebodohan. Menurut saya itu terjadi karena keintiman dan rasa penuh pengertian yang mereka sajikan berada di level ekstrim, sehingga menimbulkan persepsi yang negatif dimata orang lain.

 

Kamu tahu, bahwa tidak pernah ada yang salah dalam kalimat “menemukan cinta sejati” atau “mencari cinta sejati”. Faktanya, banyak dari kita yang mulai pesimis dengan hal ini, seseorang dianggap bodoh dan membuang-buang waktu ketika berkata demikian. Padahal, dalam kata “cinta sejati”, kamu bisa mengecap hal-hal seperti liberating, empowering, stress relieving, stimulating and wonderful thing that could possibly happen to two people.

 

Dan pertanyaan yang timbul sekarang adalah apakah orang benar-benar tahu apa itu Cinta? Kamu tahu?

 

Terkadang, sebuah perasaan yang timbul layaknya cinta terhadap seseorang bisa jadi tidak lebih dari sekedar ketertarikan belaka. Beberapa orang sering dengan mudah dapat jatuh cinta dan seketika cinta itu hilang begitu saja, tebak! Buat saya, itu hanya nafsu belaka.

 

Ini hal yang membingungkan bagi kita, ya kita, maksud saya remaja. Cinta romantis adalah konsep yang relatif baru untuk kita dan kita tidak tahu apa yang diharapkan dari itu. Umumnya kita akan kewalahan, karena hati berasa dipenuhi dengan segala macam perasaan yang baru. Tekanan sosial juga salah satu hal yang mungkin mendorong kita untuk jatuh cinta kepada siapa pun yang kita pikir ‘tidak buruk/lumayan’. Ya, tekanan teman sebaya tidak hanya terbatas pada lingkup akademis tentunya. Jika teman saya punya pacar kenapa saya tidak?Apakah saya tidak cukup baik? (Gitu kan?, Ya kan?)

 

Saya sering melihat teman sebaya kita memasang update status mereka di situs jejaring sosial, lebih bertendensi pada nafsu-nya dibanding dengan cinta itu sendiri. (Yang mereka anggap sebagai cinta). Kita, hidup di generasi modern yang memiliki banyak kebebasan, entah itu kebebasan untuk memilih apa yang ingin kita tonton, apa yang ingin kita lakukan, di mana kita ingin pergi, dan lainnya. Tetapi pada saat kita mengeksploitasi kebebasan kita dengan berlebihan, itu semua hanya akan menghancurkan kita, karena semua apa yang kita pikirkan pada waktu itu adalah untuk memiliki pacar. Tidak lebih.

 

Ya. Memang benar, bahwa tidak ada usia yang tepat untuk jatuh cinta, tapi komitmen dan tingkat kedewasaan adalah dua komposisi yang dibutuhkan untuk menemukan dimana “cinta” itu berada.

 

Ketika kelak kamu menemukan “jodoh” itu nantinya, ingatlah bahwa kamu bersama dia adalah karena kamu telah dewasa, sesuatu yang kamu cintai karena pikiran dan hatimu berkata itu cinta. Bukan karena seseorang diluar sana memaksamu untuk punya pacar atau mengatakan sudah saatnya kamu menikah.

 

Lalu yang seperti apakah si “jodoh” itu?

 

Jodoh itu adalah dia yang berpotensi berpikir sama seperti apa yang kamu pikir dan merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasa. Satu hal yang harus selalu diingat, bahwa kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Konsep untuk menemukan orang yang “baik” adalah tepat, namun ketika kamu berharap menemukan seseorang yang “sempurna” itu mustahil. Karena tidak ada yang sempurna didunia ini. Bagaimana rupa dan penampilan fisiknya tidaklah lebih penting dari kebaikan dan wajah hatinya.

 

Apa yang kita lihat adalah apa yang kita dapatkan, dan mudah-mudahan jodoh kamu nanti mempunyai hati yang terbaik yang pernah kamu temui. Kita jatuh cinta dengan jiwa seseorang, bukan bentuk atau ukuran tubuhnya. Dan meskipun banyak hal dapat dilakukan untuk memperbaiki penampilan fisik, namun itu seharusnya tidak menjadi kriteria utama untuk sebuah persahabatan atau pencarian teman hidup. Jatuh cintalah dengan hatinya, dengan batinnya, dengan mereka yang seutuhnya. Karena itulah yang paling penting. Jadi, sudah tahu siapa CINTAmu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s